Bupati Ayah Wa Diguyur Haru, Juara MTQ Aceh Utara Diguyur Bonus Sepeda Motor dan Uang Tunai
Aradionews.id - Air mata Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, SE., MM., pecah di tengah apel gabungan, Senin (5/10/2026). Bukan karena duka, melainkan haru melihat anak-anak Aceh Utara mampu membawa nama daerah bersinar di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional dan Provinsi Aceh.
Di halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Landeng, Kecamatan Lhoksukon, Ayah Wa sapaan akrab Ismail A Jalil tak mampu menyembunyikan emosinya ketika memberikan penghargaan kepada para qari dan qariah yang telah mengukir prestasi.
Suara Bupati terdengar bergetar. Baginya, prestasi tersebut bukan sekadar deretan piala atau gelar juara, tetapi bukti bahwa generasi Aceh Utara masih memiliki kemampuan untuk berdiri sejajar dengan daerah lain.
“Menghargai setiap perjuangan generasi yang menjadikan iman, ilmu, dan prestasi sebagai jalan pengabdian. Kalian telah membuktikan bahwa anak-anak Aceh Utara mampu berdiri sejajar, mampu bersaing, dan mampu menoreh nama Aceh Utara dalam lembaran prestasi,” ujar Ayah Wa.
Pesan itu kemudian dipertegas dengan tindakan. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara tidak berhenti pada ucapan selamat.
Para juara diganjar penghargaan nyata.
Salah satunya diberikan kepada Raisya Annazira, peraih Juara I Hifzil Qur’an Golongan 30 Juz Putri pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Raisya menerima satu unit sepeda motor Honda Scoopy warna merah-hitam sebagai bentuk apresiasi atas prestasinya. Selain kendaraan, pemerintah daerah juga menyerahkan bonus uang tunai kepada para peserta berprestasi, termasuk Rp15 juta untuk peraih Juara I, disertai piagam penghargaan.
Bagi Ayah Wa, penghargaan tersebut bukan sekadar hadiah. Ada pesan lebih besar yang ingin disampaikan: prestasi anak daerah harus dihargai dan perjuangan mereka tidak boleh dianggap angin lalu.
Dari Samudera Pasai untuk Panggung Nasional
Dalam amanatnya, Ayah Wa mengaitkan capaian para qari dan qariah dengan sejarah panjang Aceh Utara sebagai bagian dari kawasan Samudera Pasai, salah satu pusat awal perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan di Nusantara.
“Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan, yang terdengar bukan sekadar suara yang merdu. Di dalamnya mengalir jejak sejarah dari tanah yang dahulu menjadi pintu masuk cahaya Islam di Nusantara,” katanya.
Menurutnya, sejarah kejayaan masa lalu tidak seharusnya hanya menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Justru, sejarah tersebut harus menjadi energi untuk melahirkan kembali generasi berilmu dan berprestasi.
Terlebih, Aceh Utara kini memasuki usia 800 tahun. Momentum tersebut dinilai harus menjadi titik balik untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, keagamaan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Prestasi Nasional Tak Datang Gratis
Pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, kafilah Aceh Utara mencatat prestasi melalui Raisya Annazira yang meraih Juara I Hifzil Qur’an Golongan 30 Juz Putri.
Sementara Qaisal Ridha meraih Juara III Khattil Qur’an Golongan Kaligrafi Digital Putra.
Apresiasi juga diberikan kepada peserta berprestasi nasional lainnya, yakni Ahyar Ar Rayyan, Nailul A’rifa, Amaliya Ash Shalihah, dan Sych Marzawi.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa Aceh Utara tidak hanya hadir sebagai peserta dalam ajang bergengsi tersebut, tetapi mampu pulang membawa gelar juara.
Catatan prestasi juga terlihat pada MTQ XXXVII Aceh Tahun 2025 di Kabupaten Pidie Jaya.
Sejumlah peserta Aceh Utara berhasil merebut Juara I, masing-masing Nailul A’rifa pada cabang Tartil Putri, Raisya Annazira pada Hifzil Qur’an Golongan 30 Juz Putri, Muhammad Nawal Mubarak pada Tafsir Qur’an Golongan Bahasa Arab Putra, serta Amaliya Ash Shalihah pada Tafsir Qur’an Golongan Bahasa Arab Putri.
Kemudian Syech Marzawi meraih Juara I Khattil Qur’an Golongan Hiasan Mushaf Putra, Ahyar Ar Rayyan Juara I Khattil Qur’an Golongan Kontemporer Putra, dan Qaisal Ridha Juara I Khattil Qur’an Golongan Kaligrafi Digital Putra.
Sementara posisi Juara II diraih Elvina Zuhra pada Hifzil Qur’an Golongan 20 Juz Putri dan Hufaizha Tazkira pada Khattil Qur’an Golongan Kaligrafi Digital Putri.
Adapun Juara III diraih Abidzar Al-Ghifari pada Tartil Putra, Shabran Sakura pada Hafalan Hadis Golongan 100 Hadis dengan Sanad Putra, Zahira Husaini pada Hafalan Hadis Golongan 100 Hadis dengan Sanad Putri, serta Bizzaqul Junfi Hanif dan Miftahul Jannah pada cabang Hafalan Hadis.
Tim Syarhil Qur’an Putra yang diperkuat Muhammad Al-Walid MZ, Amzar Al-Ehyar, dan Muhammad Luthfi juga berhasil menyumbangkan prestasi.
Bagi Aceh Utara, sederet capaian tersebut bukan sekadar angka dalam daftar penghargaan.
Di balik setiap gelar juara ada proses panjang, hafalan yang dijaga, latihan yang berulang, serta keberanian membawa nama daerah ke panggung yang lebih besar.
Dan Senin itu, pemerintah daerah memilih untuk membalas perjuangan tersebut dengan sesuatu yang konkret.
Bukan hanya tepuk tangan, tetapi penghargaan. Bukan hanya seremoni, tetapi bonus.
Pesannya jelas, ketika anak daerah berjuang mengharumkan nama Aceh Utara, pemerintah harus hadir untuk menghargai perjuangan mereka.





