Ketua PWI Lhokseumawe Tantang Dandim buka Fakta sebenarnya,Aksi Oknum TNI pukul wartawan



Aradionews.id - Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, menilai keterangan yang disampaikan Muspika Tanah Luas melalui Danramil 10 Tanah Luas terkait insiden kericuhan pertandingan sepak bola yang berujung pada dugaan kekerasan terhadap wartawan berpotensi membentuk persepsi sepihak dan mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Menurut Sayuti, PWI telah membentuk tim investigasi untuk mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak serta menelusuri kronologi kejadian secara lebih utuh.

“Kami sudah melakukan investigasi. Fakta yang kami temukan di lapangan tidak seperti yang disampaikan Danramil. Jangan menggunakan cara-cara lama dengan membangun kontra opini ketika persoalan menyangkut dugaan kekerasan terhadap wartawan,” tegas Sayuti, dan meminta Dandim untuk memberikan keterangan dan  fakta sebenarnya kejadian tersebut, dalam keterangannya kepada awak media, Jumat (28/8/2026).

Sayuti bahkan menduga terdapat pihak lain yang ikut berperan dalam penyusunan narasi tandingan terkait insiden kekerasan yang dialami oleh Haiqal dan tercatat sebagai anggota PWI. Namun, ia menegaskan dugaan itu perlu dibuktikan melalui proses pemeriksaan yang objektif.

Ia menilai masyarakat saat ini semakin kritis terhadap informasi yang beredar dan tidak mudah menerima begitu saja satu versi kejadian.

“Banyak warga yang menyaksikan langsung bagaimana Haiqal mengalami tindakan kekerasan di tengah kericuhan. Karena itu, semua pihak harus berhati-hati dalam menyampaikan keterangan agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru,”tegasnya.

PWI Pertanyakan Kehadiran Personel Koramil

Selain kronologi dugaan kekerasan, PWI Lhokseumawe juga mempertanyakan kehadiran sejumlah personel Koramil dalam kegiatan pertandingan sepak bola tersebut.

Sayuti mengatakan, berdasarkan informasi yang sedang ditelusuri pihaknya, kehadiran sejumlah personel Koramil disebut berkaitan dengan honorarium yang disediakan panitia. Namun, informasi tersebut masih akan diverifikasi lebih lanjut.

“Kalau memang untuk pengamanan, apa kapasitas dan kepentingan militer dalam melakukan pengamanan pertandingan sepak bola? Ini harus dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan tafsir liar di tengah masyarakat,” katanya.

Sayuti mengatakan tim investigasi PWI telah bekerja sejak Kamis malam untuk menelusuri berbagai informasi yang berkembang di lapangan, termasuk kemungkinan adanya persoalan lain yang berkaitan dengan aktivitas jurnalistik Haiqal sebelumnya.

Haiqal Ungkap Kronologi dari Sudut Pandangnya

Sementara itu, Haiqal Alfikri memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian yang dialaminya.

Ia mengatakan, sebelum kericuhan pecah, dirinya berada di tribun bagian belakang bersama seorang personel Polsek Tanah Luas.

Menurut Haiqal, seusai peluit panjang dibunyikan, dirinya masih melihat aksi selebrasi yang menurutnya mengarah pada ejekan serta gestur provokatif dari salah seorang pemain bernomor punggung 18 dari kesebelasan Trieng.

Ketika kericuhan mulai terjadi, Haiqal mengaku turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi sebagai bagian dari tugas jurnalistiknya.

Namun, karena dirinya merupakan warga yang memiliki keterkaitan dengan salah satu tim, keberadaannya disebut kemudian disalahpahami oleh salah satu pihak sebagai bentuk keberpihakan.

“Saya turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi. Ketika ada yang merongrong saya, saya hendak menjelaskan kapasitas saya sebagai wartawan. Dalam kondisi ramai, saya memang merespons dengan nada tinggi,”jelas Haiqal yang masih terbaring lemas di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara.

Ia mengaku situasi kemudian berubah ketika seorang anggota TNI disebut memitingnya dari belakang. Menurut pengakuannya, terdapat anggota lainnya yang kemudian melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.

“Saya dipiting dari belakang. Kemudian ada anggota lain yang melakukan penganiayaan. Alhamdulillah, ada anggota Polsek Tanah Luas yang langsung melindungi saya dan berteriak agar tindakan tersebut dihentikan,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, Haiqal mengaku mengalami nyeri pada bagian rusuk dan masih menjalani observasi medis untuk mengetahui kondisi kesehatannya.


Bantah Disebut Diamankan Polisi

Haiqal juga membantah anggapan bahwa dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas setelah kejadian.

“Saya tidak diamankan. Saya sendiri yang berlari ke Polsek karena kendaraan saya memang biasa saya parkir di sana ketika menonton pertandingan sepak bola,” jelasnya.

Ia juga membantah apabila tindakan terhadap dirinya merupakan bagian dari upaya anggota TNI untuk melerai kericuhan.

“Tidak ada aksi peleraian yang dilakukan TNI terhadap saya. Yang terjadi, saya justru dipiting dan mengalami kekerasan. Setelah itu anggota Polsek yang melerai dan melindungi saya,” tegasnya.

Haiqal mempertanyakan alasan dirinya yang kemudian menjadi sasaran di tengah situasi kericuhan.

“Mereka datang dari arah yang cukup jauh dan langsung mengarah kepada saya. Pertanyaannya sederhana, kalau memang tujuan mereka melerai kericuhan, mengapa justru saya yang didatangi dan dipiting?” ujarnya.

Ia juga menyebut seorang anggota TNI yang diduga terlibat, Sertu Hendra, masih menunjukkan gestur yang menurutnya terkesan menantang setelah dilerai personel Polsek.

“Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya seperti menantang. Itu yang saya rasakan langsung di lokasi,” katanya.

Haiqal mengaku sebelumnya beberapa kali merasakan sikap yang menurutnya terkesan sinis dari Sertu Hendra ketika mereka berpapasan. Namun, ia mengatakan tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebabnya.


PWI Telusuri Dugaan Motif Lain

Ketua PWI Lhokseumawe Sayuti Achmad menilai insiden tersebut perlu dilihat secara menyeluruh dan tidak hanya berhenti pada kericuhan pertandingan sepak bola.

Menurutnya, aktivitas jurnalistik Haiqal selama ini juga perlu menjadi bagian dari konteks yang diperiksa, terutama karena Haiqal dikenal aktif memberitakan sejumlah persoalan di Kecamatan Tanah Luas.

Sayuti menyebut pihaknya sedang menelusuri sejumlah pemberitaan yang pernah dibuat Haiqal, termasuk informasi mengenai dugaan persoalan dana kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tanah Luas serta sejumlah persoalan lainnya.

“Kami menemukan banyak pihak yang merasa risih dengan kehadiran Haiqal karena pemberitaannya kritis. Karena itu, kami melihat kejadian ini perlu diperiksa secara serius. Jangan sampai kericuhan dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap wartawan,” tegas Sayuti.

Ia juga menyebut pihaknya tengah menelusuri informasi mengenai dugaan adanya pungutan atau permintaan uang yang disebut-sebut berkaitan dengan praktik “share” sebesar Rp3 juta per desa dari keuchik untuk tiga instansi di Kecamatan Tanah Luas.

Namun, Sayuti menegaskan informasi tersebut masih dalam tahap penelusuran dan perlu dibuktikan melalui data serta keterangan dari pihak-pihak terkait.

“Kami melihat ada miss komunikasi atau hubungan yang tidak sehat antara Koramil dengan anggota kami di lapangan. Kejadian ini harus diperiksa secara objektif. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini murni upaya peleraian sebelum seluruh fakta dibuka,” katanya.


PWI Minta Penanganan Naik ke Tingkat Institusi

Sayuti meminta institusi TNI memastikan proses klarifikasi dilakukan secara objektif dan transparan.

Menurutnya, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada level internal yang berpotensi menimbulkan persepsi adanya upaya melindungi anggota.

“Saya sudah dua dekade menjadi wartawan. Saya memahami pola-pola ketika sebuah institusi berusaha melindungi anggotanya. Karena itu, jangan sampai proses klarifikasi berubah menjadi upaya membangun kontra opini dan mengaburkan fakta,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengeluarkan pernyataan yang belum didukung hasil pemeriksaan menyeluruh.

“Saya mantan wartawan Bukit Barisan dan pernah menjadi wartawan perang. Saya paham bagaimana pola-pola pemberitaan dan kontra opini dibangun. Harapan saya, Danramil jangan mempertinggi tempat untuk jatuh. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berkata berdasarkan fakta,” ujar Sayuti.


PWI Siapkan Langkah Hukum

PWI Lhokseumawe memastikan tidak akan tinggal diam dalam kasus tersebut.

Sayuti mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Haiqal yang saat ini menjalani observasi medis akibat keluhan nyeri pada bagian rusuk.

Setelah kondisi medis memungkinkan dan seluruh bukti pendukung terkumpul, PWI berencana menempuh jalur hukum dengan melaporkan dua anggota TNI yang diduga terlibat ke Polisi Militer (POM).

“Kami sedang menunggu pemulihan Haiqal. Setelah itu, kami akan menempuh jalur hukum. Kami juga sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk PWI Aceh dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), dan mereka siap memberikan dukungan agar persoalan ini diproses secara hukum,” kata Sayuti.

Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut Haiqal Alfikri sebagai individu, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan terhadap wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“Ini bukan hanya tentang Haiqal. Ini menyangkut bagaimana seorang wartawan harus mendapatkan perlindungan ketika menjalankan tugas jurnalistik. Kalau ada dugaan kekerasan terhadap wartawan, maka harus diperiksa secara objektif dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.



Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru