Kolaborasi Qurban di Lhokseumawe, 28 Sapi untuk Dhuafa, Model Distribusi Tepat Sasaran Jadi Sorotan
Aradionews.id – Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat pasca tekanan ekonomi yang berkepanjangan, kolaborasi antara Islamic Relief Indonesia dan Baitul Mal Kota Lhokseumawe menghadirkan wajah lain dari ibadah qurban, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan gerakan sosial yang dirancang tepat sasaran.
Pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, sebanyak 28 ekor sapi qurban disalurkan khusus untuk masyarakat Kota lhokseumawe. Program ini merupakan bagian dari distribusi nasional Islamic Relief Indonesia yang tahun ini menyalurkan total 274 ekor sapi di berbagai daerah Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 232 ekor sapi disalurkan di Nusa Tenggara Barat (NTB), 14 ekor sapi di Palu,Sulawesi Tengah, dan 28 ekor sapi difokuskan di Aceh, khususnya Kota Lhokseumawe.
Yang menarik, pola distribusi qurban tahun ini tidak hanya menitikberatkan pada jumlah hewan yang disembelih, tetapi juga pada akurasi penerima manfaat. Keluarga dhuafa, anak yatim, lansia, hingga masyarakat rentan menjadi prioritas utama penerima daging qurban.
Sebanyak 10 ekor sapi berasal dari kontribusi Baitul Mal Kota Lhokseumawe yang dipusatkan di Desa Baloy, Kecamatan Blang Mangat. Distribusinya menjangkau lima desa, yakni Baloy, Baloy Tunong, Kuala, Ulee Blang Manee, dan Teungoh.
Sementara 18 ekor sapi lainnya dari Islamic Relief Indonesia disalurkan di sejumlah titik lain dalam wilayah Kota lhokseumawe.
Program ini merupakan bagian dari gerakan “Double Qurban – Double Berkah”, sebuah konsep kolaborasi qurban antara mudhohi dalam negeri dan luar negeri.
CEO Islamic Relief Indonesia, Nanang Subana Dirja menjelaskan, setiap satu sapi qurban dari Indonesia akan didampingi satu sapi qurban dari luar negeri dengan berat rata-rata 200 hingga 230 kilogram.
“Setiap mudhohi Indonesia yang berqurban sapi melalui Islamic Relief akan mendapatkan satu sapi
pendamping dari luar negeri. Sapi dari luar negeri ini secara khusus diperuntukkan bagi fakir miskin dengan ketentuan satu sapi untuk 35 keluarga. Di situlah letak keberkahan sosial dari program ini,” ujar Nanang.
Ia menegaskan bahwa qurban tidak boleh berhenti pada simbol penyembelihan, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, terutama kelompok yang selama ini jarang menikmati protein hewani secara layak.
Pantauan di lapangan menunjukkan distribusi dilakukan secara rapi dan terorganisir. Daging qurban dikemas menggunakan box plastik bertuliskan Qurbani Meat Distribution Program 2026.
Setiap keluarga penerima manfaat memperoleh sekitar 3,5 kilogram daging segar lengkap dengan hati, tetelan, dan bagian lainnya.
Bagi sebagian warga, bantuan tersebut bukan sekadar paket daging, melainkan kemewahan yang jarang mereka nikmati dalam keseharian.
Ketua Baitul Mal Kota Lhokseumawe, Dr. H. Tgk. Damanhur Abbas, Lc., MA menyebut kolaborasi ini sebagai bentuk nyata sinergi kemanusiaan yang harus terus diperkuat.
“Kami ingin memastikan qurban benar-benar dirasakan masyarakat yang membutuhkan. Karena itu Baitul Mal turut berpartisipasi dengan menyumbangkan 10 ekor sapi sehingga total keseluruhan mencapai 28 ekor sapi untuk masyarakat penerima manfaat di Kota Lhokseumawe,” katanya.
Menurutnya, kerja sama lintas lembaga menjadi langkah penting dalam memperluas dampak program sosial keummatan di tengah masyarakat.
Apresiasi juga datang dari Ketua Komisi D DPRK Kota Lhokseumawe, Nurbayan. Ia menilai program kolaborasi seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana lembaga sosial dan kemanusiaan dapat hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat bawah.
“Program seperti ini sangat membantu warga kurang mampu. Kami berharap kolaborasi sosial seperti ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lembaga lainnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Camat Blang Mangat, Faisal. Ia menyebut distribusi qurban tahun ini sangat membantu masyarakat di wilayahnya, khususnya kelompok dhuafa dan lansia.
“Kami melihat sendiri antusiasme masyarakat. Program ini bukan hanya memberi bantuan pangan,tetapi juga menghadirkan rasa diperhatikan bagi warga,” kata Faisal.
Sementara itu, Ketua LAZNAS Islamic Relief Indonesia, Inayatullah Abd Hasyim mengingatkan bahwa qurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan.
“Hakikat qurban adalah menyembelih keterikatan hati terhadap dunia. Hewan qurban hanyalah simbol dari pengorbanan yang lebih besar,” ujarnya,
Mengutip pandangan Imam Al-Qusyairi. Aceh Area Coordinator Islamic Relief Indonesia, Yusrizal Puteh menambahkan, keberhasilan pelaksanaan qurban tahun ini tidak lepas dari dukungan relawan, masyarakat, serta kolaborasi lintas lembaga yang berjalan solid.
“Program ini bukan hanya soal distribusi daging, tetapi menghadirkan kebahagiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Di tengah situasi sosial yang menuntut hadirnya aksi nyata, program qurban kolaboratif seperti ini menunjukkan bahwa ibadah tidak berhenti di tempat penyembelihan. Ia bergerak lebih jauh, mengetuk pintu rumah-rumah dhuafa, menguatkan solidaritas sosial, dan memastikan keberkahan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.[]





