Di Tengah Polemik Konser Merdeka Fest, Martabak Kacang Kak Ana Justru Laris Manis
Aradionews.id - Di tengah polemik sebuah konser Merdeka Fest di lapangan sudirman Kota lhokseumawe yang disebut-sebut melanggar ketentuan syariat Islam di Kota Lhokseumawe, ada cerita lain yang berjalan diam-diam di pinggir jalan. Bukan tentang panggung, musik, atau kerumunan penonton, melainkan tentang sepiring martabak kacang dan perjuangan sebuah keluarga mempertahankan dapur mereka tetap mengepul.
Kisah itu datang dari Kak Ana (38), penjual martabak kacang yang hampir setiap malam membuka lapak sederhana di samping Kantor Bank BTN, Kota Lhokseumawe. Ia berjualan bersama suaminya yang juga menjadi bagian dari usaha kecil tersebut.
Bagi sebagian orang, keramaian mungkin sekadar hiburan. Namun bagi pedagang kecil seperti Kak Ana, keramaian berarti kesempatan untuk membawa pulang lebih banyak uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Malam itu, suasana Lhokseumawe yang lebih ramai dari biasanya membawa berkah tersendiri. Dagangan martabak kacangnya ludes.
“Sudah dua malam ini Kota Lhokseumawe cukup ramai, Bang. Entah dari mana-mana orang datang. Lihat konser Merdeka Fest di lapangan sudirman, Alhamdulillah malam ini martabak kacang habis semua,” ujar Kak Ana kepada AradioNews.id sambil tersenyum.
Senyumnya sederhana. Tetapi di balik senyum itu ada cerita tentang ketidakpastian penghasilan pedagang kecil yang setiap hari menggantungkan hidup pada jumlah orang yang lewat dan membeli dagangannya.
Ketika aradionews menanyakan lagi mengenai polemik konser yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam, Kak Ana tidak membantah.
“Memang betul konser melanggar syariat Islam. Kan ada pembatas antara penonton laki laki dan penonton perempuan, Tapi coba pikir perut keluarga kami sehari-hari. Kami jualan, kalau tidak laku-laku terpaksa dagangan kami buang karena basi. Kami ini mata pencaharian memang berjualan martabak kacang. Tidak banyak pun untungnya, Pak,” katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan sisi lain dari sebuah peristiwa yang selama ini mungkin hanya dilihat dari sudut pandang hukum, norma dan syariat.
Di satu sisi, muncul kritik terhadap penyelenggaraan konser yang dinilai tidak sejalan dengan ketentuan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Namun di sisi lain, keramaian yang muncul di sekitar kegiatan tersebut turut menggerakkan ekonomi informal
mulai dari pedagang makanan, minuman hingga usaha kecil lainnya.
Di sinilah ironi itu muncul.
Sebuah kegiatan yang menuai kontroversi justru memberikan pemasukan tak terduga bagi masyarakat kecil yang tidak terlibat langsung dalam penyelenggaraannya.
Kak Ana tidak sedang berbicara mengenai keuntungan besar. Ia hanya berbicara tentang dagangan yang habis, uang yang bisa dibawa pulang, dan harapan agar keluarganya tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi pedagang kecil, satu malam dagangan habis bukan sekadar kabar baik. Itu berarti lebih sedikit makanan yang terbuang, modal bisa kembali berputar, dan ada sedikit ruang untuk bernapas di tengah tekanan ekonomi.
Antara Syariat dan Perut Rakyat
Peristiwa ini semestinya menjadi bahan refleksi bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe.
Penegakan syariat Islam tentu merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Namun, kebijakan publik juga tidak bisa dilepaskan dari realitas ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup pada aktivitas keramaian.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah sebuah konser boleh atau tidak, tetapi juga bagaimana pemerintah menciptakan ruang ekonomi yang tetap sesuai dengan syariat, namun mampu memberikan kesempatan kepada pedagang kecil untuk mencari nafkah.
Sebab, bagi masyarakat seperti Kak Ana, ekonomi bukan teori di atas kertas.
Ekonomi adalah dagangan yang harus habis sebelum basi.
Ekonomi adalah modal yang harus kembali malam itu.
Dan ekonomi adalah uang yang harus dibawa pulang untuk menghidupi keluarga.
Kota Lhokseumawe membutuhkan kebijakan yang mampu mempertemukan dua kepentingan tersebut menjaga syariat sekaligus membuka ruang ekonomi yang sehat bagi masyarakat.
Sebab, jangan sampai masyarakat kecil hanya menjadi penonton dalam setiap keramaian,sementara ketika keramaian itu datang, mereka justru menjadi pihak yang paling berharap bisa mendapatkan sedikit rezeki dari sana.
Malam itu, martabak kacang Kak Ana memang habis.
Tetapi cerita tentang syariat, ekonomi rakyat, dan kebijakan pemerintah masih menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar.





