Pendidik Dayah Aceh Didorong Jadi Penulis Dakwah Digital: PWA Tekankan Literasi sebagai Jalan Baru Syiar Ilmu
Aradionews.id — Transformasi digital kini mulai menyentuh lembaga dayah di Aceh. Dalam suasana khidmat di Gedung Hasbi Ash-Shiddieqy, puluhan pendidik dayah berkumpul untuk belajar hal yang tak biasa bagi mereka: teknik menulis berita dan literasi digital.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Teknik Dasar Jurnalistik dan Literasi Digital bagi Pendidik Dayah” itu diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara sebagai bagian dari Program Peningkatan Kualitas dan Pengembangan Kelembagaan Dayah Tahun 2025.
Di hadapan peserta, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Aceh (DPP-PWA), Maimun Asnawi, S.Hi., M.Kom.I, menegaskan bahwa dunia pendidikan keagamaan tak boleh tertinggal dalam arus informasi digital. Ia mengajak para pendidik untuk menjadikan tulisan sebagai media dakwah yang hidup dan dinamis.
“Tradisi menulis sudah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam. Bedanya, kini medianya berubah. Bila para guru dayah mampu menulis dan mempublikasikan kegiatan mereka, itu bukan sekadar berita, tetapi dakwah yang menyentuh masyarakat lebih luas,” ujar Maimun.
Menurutnya, dokumentasi kegiatan dayah bukan hanya soal eksposur, melainkan upaya menjaga warisan intelektual ulama agar terus mengalir di era digital.
Pelatihan yang berlangsung dua hari, 11–12 November itu, diikuti 30 pendidik dayah dari berbagai kecamatan. Para peserta mendapat pembekalan langsung dari tiga narasumber profesional: Maimun Asnawi (Ketua PWA), Masriadi (jurnalis Kompas.com), dan Agustiar (Sekretaris AMSI Aceh sekaligus Pemimpin Redaksi Layarberita.com).
Mereka membawakan beragam materi, mulai dari strategi literasi digital dan etika media, hingga teknik menulis artikel dakwah yang komunikatif. Selain teori, peserta juga berlatih praktik menulis berita dan mengelola konten untuk situs web dayah.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Zulkifli, menilai kegiatan ini sebagai upaya nyata menjawab tantangan zaman.
“Guru dayah tidak cukup hanya mengajar di ruang kelas. Mereka juga perlu menguasai bahasa media dan teknologi agar nilai-nilai Islam bisa disampaikan dengan cara yang menarik dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan literasi sejatinya bukan hal baru bagi kalangan dayah. Membaca dan menulis telah menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama terdahulu. Kini, tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan ke dalam konteks digital yang cepat dan terbuka.
Pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan pendidik dayah yang melek media, sekaligus menjadi duta literasi keislaman di ruang digital. Dengan menulis, para guru dayah bukan hanya mencatat sejarah, tetapi juga membuka jalan baru bagi dakwah yang cerdas dan beradab.[]





